Melakukan beberapa pekerjaan sekaligus diyakini baik buat otak kita

 indonesia, Jagat News, verticals_future

Multi taskingImage copyright
Getty

Image caption

Akrab dengan media lebih mudah melakukan multi-tasking.

Kita tahu rasanya multi-tasking atau melakukan beberapa pekerjaan sekaligus.

Anda sedang berada di kantor yang berisik dan berusaha untuk berkonsentrasi. Layar komputer Anda memperlihatkan delapan situs web terbuka, sekaligus dua akun email, tiga dokumen, dan sebuah spreadsheet, dua file pdf dan setidaknya satu situs jejaring sosial.

Anda kelihatannya setidaknya mengerjakan lima hal sekaligus dan ketika menyelesaikan satu di antaranya, Anda dapat email atau pesan dan Anda segera menjawab pesan itu.

Anda rasanya sudah berjam-jam di depan komputer, tapi rasanya belum ada juga yang selesai dikerjakan. Dan bukan hanya dalam pekerjaan, yang namanya multi-tasking itu meningkat.

Pada tahun 2015 ditemukan bahwa 99% orang dewasa menggunakan dua bentuk media secara sekaligus pada saat yang sama setiap pekannya. Secara rata-rata orang mengerjakan hal itu dua jam tiga menit setiap harinya. Kombinasi paling populer adalah menonton TV berbarengan dengan bicara di telepon.

Kita bisa memutuskan untuk tidak memeriksa email kita terlalu sering, maka kita mematikan fungsi pengingatnya, tapi secara umum kita tak melakukan hal itu.

Mengerjakan dua hal sekaligus membuat kita merasa menghemat waktu, sekalipun tetap ada perasaan bahwa menyelesaikan satu pekerjaan sebelum yang lainnya mungkin membuat kerja kita lebih efisien.

Image copyright
iStock

Image caption

Ada memang manusia yang mampu multi-tasking lebih daripada kebanyakan orang.

Dalam psikologi, asumsi tunggal yang berlaku adalah: menyelesaikan satu pekerjaan sebelum beralih ke yang lain selalu lebih baik. Dalam sebuah penelitian yang diadakan selama beberapa dekade, Allen Bluedorn mendapat temuan mengejutkan bahwa itu tergantung orang masing-masing.

Beberapa orang senang mengerjakan satu pekerjaan dulu dan lebih bahagia dengan cara seperti itu. Beberapa lagi mengerjakan pekerjaan sekaligus dan bisa tetap mengerjakan dengan baik.

Menjalankan café yang sibuk mungkin bisa jadi contoh – namun ini bukan berarti bahwa mereka menjalankan pekerjaan dengan lebih cepat. Di café, tak ada pilihan kecuali melompat dari satu tugas ke tugas lainnya.

Penelitian awalnya melihat multi-tasking yang terpaksa dilakukan, terasa berat. Multi-tasking punya nama buruk.

Beberapa penelitian menugaskan orang untuk mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Pada penelitian lain, multi-tasking berarti beralih maju mundur antara tugas-tugas berbeda sampai tugas-tugas itu selesai.

Jadi mereka tidak mengerjakannya pada saat yang sama, tetapi dalam blok waktu yang sama, hal ini sering terjadi dalam pekerjaan yang sesungguhnya.

Masalah di sini adalah sesuatu yang disebut sebagai sisa perhatian. Percobaan telah membuktikan bahwa ketika kita mengalihkan perhatian dari satu tugas ke yang lain, sedikit pikiran kita masih berfokus pada tugas sebelumnya.

Setiap kali kita beralih lagi kita harus mengingatkan diri sendiri tentang apa yang tadi kita kerjakan, sementara kita sedang berurusan dengan tugas yang lain. Ini bisa meningkatkan beban kognitif.

Terkadang ketika Anda berkonsentrasi pada lebih dari satu tugas saat bersamaan, tak ada sumber kognitif untuk melakukannya. Anda butuh mengerahkan perhatian, memberdayakan ingatan dan fungsi menjalankan tugas. Semakin berat tugas Anda, semakin besar kemungkinan Anda melewati batas kemampuan Anda.

Image copyright
Getty

Image caption

Persoalan dalam multi-tasking adalah pada ‘sisa perhatian’.

Maka prestasi Anda akan menurun.

Memfokuskan pikiran

Banyak penelitian selama bertahun-tahun menemukan bahwa secara umum kita semakin lambat dan semakin tidak akurat ketika mengerjakan dua pekerjaan dalam waktu bersamaan.

Ini bisa berarti jawabannya adalah menyelesaikan tugas satu per satu, tapi tidak selalu demikian. Dalam percobaan yang dilakukan Sophie Leroy pada sisi perhatian, waktu peralihan dari tugas sebelumnya menghilang ketika multi-tasking ini dikerjakan di bawah tekanan waktu yang sempit.

Ketika orang diberi tenggat yang sempit, mereka terpaksa mempersempit pilihan dan membuat keputusan yang secara kognitif tidak terlalu rumit.

Ini pada gilirannya mengurangi waktu peralihan dari tugas pertama ini, memberi kesempatan pada mereka untuk meninggalkan tugas itu dan langsung melompat ke tugas berikutnya.

Maka tenggat waktu yang memburu tak hanya membuat pikiran terkonsentrasi, tapi bisa membantu menjernihkan pikiran karena kita sibuk memikirkan tenggat tersebut.

Multi-tasking paling sulit dilakukan ketika tugas-tugas yang harus diselesaikan serupa satu sama lain, dan lebih mudah ketika tugas-tugas itu beragam.

Maka mengobrol di telepon dan menulis email sulit untuk dilakukan karena keduanya membutuhkan proses berpikir serupa agar kita bisa menghasilkan kalimat yang bermakna. Namun bermain piano sambil berbincang tidak terlalu sulit.

Persentase

Image copyright
iStock

Image caption

Beralih dari satu tugas ke yang lain memerlukan waktu.

Jika tugas-tugas itu berbeda, maka multi-tasking bahkan bisa meningkatkan performa Anda. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2015 di Universitas Florida bahkan membuat kaget penelitinya sendiri.

Peserta penelitian diminta untuk berlatih di sepeda statis selama dua menit dengan kecepatan yang nyaman bagi mereka. Kemudian mereka bersepeda lagi, kini dengan layar di depan mereka yang menyajikan 12 macam tes kognitif berbeda, dan beberapa di antaranya cukup sulit.

Dalam tes yang mudah, mereka harus mengucapkan “go” ketika melihat bintang berwarna biru di layar; dalam tugas yang lebih berat, mereka harus mengingat daftar angka dan kemudian menyebutnya lagi dalam urutan terbalik.

Mereka menyelesaikan tes kognitif ini sambil duduk di kursi di sebuah ruangan, lalu para peneliti membandingkan hasilnya.

Ketika mereka melakukannya sambil bersepeda, mereka mengayuh 25% lebih cepat ketika diberi tes untuk diselesaikan, tanpa hasil yang lebih buruk. Ini adalah kasus di mana gangguan tampaknya justru bermanfaat.

Para peneliti berspekulasi bahwa antisipasi terhadap tugas-tugas ini bisa meningkatkan rangsangan di otak, yang juga membuat mereka lebih efisien dalam mengayuh sepeda.

Dan jika Anda seorang yang mengerjakan multi-tasking yang giat maka Anda tidak punya masalah seperti kebanyakan dari kita.

Hanya sekitar 2% orang yang cemerlang dalam multi-tasking tanpa menderita penurunan performa. Kelompok khusus ini ditemukan secara tak sengaja oleh para psikolog dari Universitas Utah.

Image copyright
Getty

Image caption

Beberapa pekerjaan memang memerlukan multi-tasking.

Dua peneliti, David Strayer dan Jason Watson menemukan itu ketika meneliti mengapa menelepon sambil mengemudi lebih berbahaya ketimbang berbincang dengan penumpang yang ada di mobil bersama si pengemudi (alasannya adalah: penumpang mobil secara alami akan berhenti bercakap ketika pengemudi menghadapi situasi yang sulit).

Para peneliti ini menemukan apa yang mereka duga merupakan kekeliruan dalam data mereka, yaitu adanya seorang yang sangat baik dalam mengemudi, apapun gangguan yang dia hadapi.

Mereka mengecek ulang data itu dan sadar bahwa orang ini tidak sendirian. Dua di antara 100 orang adalah orang seperti ini, yang mampu membagi konsentrasi tanpa bersusah payah dengan performa tanpa berkurang.

Dampak kognitif

Masalahnya adalah kebanyakan dari kita tidak cukup baik untuk mengetahui apakah kita termasuk kelompok ini atau tidak.

Para psikolog yang sama menemukan bahwa semakin orang percaya bahwa mereka adalah orang yang mampu multi-tasking, semakin buruk performa mereka pada uji coba yang meminta mereka untuk mengingat sejumlah kata seraya mengerjakan soal matematika.

Kelvin Lui dan Alan Wong dari Universitas Hong Kong, Cina, memberi peserta penelitian mereka tugas dengan komputer yang melibatkan pencarian informasi visual seraya menanggapi suara-suara tertentu yang membantu mereka dengan pencarian tersebut.

Mereka menemukan orang-orang yang secara rutin menggunakan tiga atau lebih media secara sekaligus lebih baik mengintegrasikan informasi yang datang melalui telinga dan mata mereka. Karena kehidupan nyata melibatkan banyak integrasi berbagai panca indra, ini bisa menjadi keterampilan yang bermanfaat.

Ada beberapa penelitian lain yang memperlihatkan orang yang menggunakan berbagai media berbeda bisa memiliki ingatan yang lebih buruk, tetapi dengan temuan ini dan studi di Hong Kong tersebut, masalahnya tampaknya selalu sama.

Mana yang lebih dulu? Keterampilan yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan informasi dan ingatan yang buruk, atau multi-tasking?

Hal menarik tentang multi-tasking adalah sekalipun ini bisa meningkatkan beban kognitif, banyak dari kita yang masih mampu bertahan bekerja dengan cara seperti ini.

Ketika saya mulai menulis artikel ini pagi hari, saya memutuskan untuk menghitung seberapa banyak saya mengecek email atau melihat ke situs web yang tak relevan.

Ketika mencapai angka 20, saya berhenti menghitung.

Nah, kenapa kita senang melakukannya? Tampaknya, sekalipun bukan merupakan cara paling efisien dalam bekerja, rasanya seperti bukan sebuah upaya apa-apa. Hal seperti itu jelas membantu menghibur kita, ketika kita mengerjakan hal lain selain berkonsentrasi dengan apa yang ada di tangan.

Maka, multi-tasking mungkin ada kekurangannya, tapi tak selalu buruk.

Ada beberapa situasi di mana kita lebih baik ketika multi-tasking – ketika kita merasa santai dan sedang melakukan latihan mental kreatif yang mendorong kita untuk berpikir lebih luas.(Dalam penelitian ini, hal itu melibatkan berpikir dengan melibatkan sebanyak mungkin alat seperti penjepit kertas, koran, benang wol dan busa bantal.)

Sesudah kegiatan seperti ini, orang biasanya bisa menjadi lebih baik saat multi-tasking. Ketika para peneliti secara sengaja membuat mereka tertekan, mereka justru lebih buruk dalam multitasking.

Satu kata terakhir dalam topik ini – dengan segala percakapan soal keseimbangan kerja dan jadwal kegiatan 24 jam, patut diingat bahwa multi-tasking dan tekanan waktu bukan eksklusif milik jaman modern.

Pada tahun 1887, Nietzsche pernah menggambarkan perasaan yang sangat akrab dengan kita sekarang: “Kita berpikir dengan jam di tangan, dan tangan satu lagi memegang makan siang, sementara membaca berita terakhir dari pasar saham.”

Jika Anda ingin membaca artikel ini dalam bahasa Inggris, silakan di sini,

Why your brain likes it when you multi-task dan banyak artikel sejenis di laman

BBC Future.

Source link

Related Posts

Leave a Reply