Kucing benar-benar sangat egois. Benar atau salah?

 Jagat News

Image copyright
AFP

Image caption

Ada persepsi yang tersebar luas bahwa apa yang dilakukan kucing-kucing hanyalah mementingkan diri sendiri, berpusat pada diri sendiri.

Jam enam pagi dan kucing Anda menempelkan kakinya di atas kelopak mata Anda. “Sudah waktunya bangun,” begitu tampaknya dia berkata. Dia tidak akan mau tahu betapa lelahnya Anda. Dia ingin makan.

Ada persepsi yang tersebar luas bahwa apa yang dilakukan kucing-kucing hanyalah mementingkan diri sendiri, berpusat pada diri sendiri. Dengan kata lain, egois. Tetapi karena tidak puas dengan stereotipe yang begitu-begitu saja, kami menambahkan sedikit pertanyaan – apakah kucing-kucing itu egois? – kepada pendengar BBC Earth.

Beberapa dari Anda tidak menyukai pertanyaan itu sama sekali. “Egois adalah sifat manusia,” bantah Ann Halim. “Egois susah diaplikasikan pada hewan apapun, kecuali manusia,” ujar Kevin Bonin.

Tentu saja hal ini berat, tetapi tidak membuat kami berhenti mencoba.

Image copyright
GTinnetje CC by 2.0

Image caption

Kucing ini tidak peduli pada hamparan bunga-bunga.

Dalam buku The Descent of Man yang dirilis tahun 1871, Charles Darwin berargumen bahwa pikiran hewan-hewan sama dengan kita dalam berbagai hal. “Perbedaan pikiran antara manusia dan hewan tingkat tinggi… pastinya adalah derajat dan bukan jenisnya,” tulisnya.

Jika hal itu benar, kemudian pastinya seekor kucing – atau hewan tingkat tinggi lainnya – dapat sesuai dengan definisi dari Oxford Dictionary tentang egois, yaitu “semata-mata peduli pada keuntungan atau kesenangan diri sendiri”

Beberapa dari Anda sepakat bahwa kucing-kucing mementingkan diri sendiri.

“Apakah kucing-kucing itu egois??? Itu seperti menanyakan apakah Paus menempati balkon?!” kata Jane Ramsden. “Singkat kata, ada ‘keakuan’ pada anak kucing,” kata Dan Okeneski. “Kucing-kucing sepenuhnya mementingkan diri sendiri,” kata Frankathon Dirabis. “Untungnya mereka lucu dan berbulu.”

Image copyright
Alessandro Valli CC by 2.0

Image caption

Kucing ini tengah tidur dan Anda seharusnya tidak membangunkannya.

Kucing milik Gina Darlin Strange memiliki pandangan yang jelas tentang tempat dia tidur. “Jika matahari menyinari seluruh permukaan tempat tidur saya di pagi hari dan tempat tidur anak perempuan saya di sore hari, dia akan menuntut seluruh akses di sana dan akan bertingkah jika kamu memindahkannya,” katanya.

Kucing milik Annette Jeneane Behnke-Park terus menerus meminta perhatian. “Dia mencoba untuk mengajak kita bermain kejar-kejaran, menginginkan makanan kita, menginginkan tempat saya di kursi, suka berbaring di atas tubuh saya di malam hari.” katanya.

Beberapa koresponden juga melaporkan bahwa kucing-kucing mereka memperlihatkan tanda-tanda keegoisan terhadap kucing lain.

“Hector akan mencuri hadiah dari Harvey tanpa gagal jika diberi kesempatan,” kata Marlee Lütz.

Kucing jantan milik Vijata Shadrak akan mulai menyemprotkan urinnya di manapun setiap kali dua ekor kucing lain di rumahnya ingin beristirahat. “Sekarang dia menakuti mereka,” katanya. Kucing nakal.

Namun, kebanyakan orang mengatakan bahwa keegoisan bukan sifat yang mereka kenali pada kucing mereka.

Image copyright
Felipe Vidal CC by 2.0

Image caption

Korban egois kucing?

Sebaliknya, banyak pecinta kucing menjelaskan apa yang tampak seperti sikap tidak egois pada hewan peliharaan mereka. Ketidakegoisan ini didefinisikan sebagai “kepedulian tanpa pamrih untuk kesejahteraan lainnya”.

Bagaimana lagi kita menginterpretasikan perilaku kucing domestik dalam kebiasaan memberi hadiah? Ini yang Chris R Ainsworth lihat tentang bagaimana kecenderungan kucingnya meninggalkan seekor “tikus/anak kelinci/burung/bajing/tupai tanpa kepala” di depan pintu masuknya.

Semangat kemurahan hati ini tidak selalu terkait dengan hewan-hewan yang telah mati. Kucing-kucing milik Sarah Pratt menangkap hewan-hewan hidup untuknya, begitu juga dengan es batu dan pengikat rambut. “Untuk hal ini mereka baik,” katanya. Hampir serupa, kucing-kucing milik Mary Jozwiak menjatuhkan mainan mereka di luar kamar tidurnya.

Banyak kucing yang juga memahami keadaan emosional pemiliknya.

Image copyright
Pete Markham CC by 2.0

Image caption

Kucing ini memiliki tempatnya, dan Anda tidak dapat duduk di sana.

Jacqueline Tong menceritakan bagaimana kucingnya menemaninya selama 19 jam masa melahirkan, “menjilat wajah saya di antara setiap kontraksi”.

David Penn pernah mengetahui seekor anak kucing yang menenangkannya selama dia menderita infeksi gigi yang buruk dengan bergelung di pipinya dan mendengkur hingga dia tertidur.

Kucing milik Jessica Natasha A, Gina, akan selalu hadir untuk seseorang jikalau mereka sedih.

Cerita-cerita seperti ini menunjukkan bahwa kucing-kucing tidak selalu tampak dingin dan perhitungan seperti yang lazim digambarkan.

Untuk memahami pasangan perilaku kompleks yang diperlihatkan oleh kucing domestik, kita harus memikirkan asal mereka, kata Eva Leighton. “Kucing-kucing domestik masih memiliki insting dasar yang kuat dan salah satu dari mereka bersikap hati-hati dan menjaga diri sendiri.”

Image copyright
Fabrice CahezNPL

Image caption

Seekor kucing hutan (Felis sivestris) di Prancis.

Kita mengetahui bahwa kucing-kucing adalah keturunan dari kucing hutan (Felis silvestris). Kucing-kucing hutan adalah makhluk soliter yang intens, sehingga masuk akal bahwa kucing-kucing domestik juga merasa bahagia dengan diri sendiri.

Kita mungkin berharap bahwa proses penjinakan ini dapat mencabut semangat kebebasan. Tetapi kucing-kucing tidak dijinakkan dengan cara yang sama dengan hewan-hewan lain, dengan manusia-manusia yang memilih dengan hati-hati hewan-hewan yang untuk dikembangbiakkan dan sifat-sifat yang bagaimana untuk didorong.

Sebaliknya, kucing-kucing mungkin bertanggung jawab atas penjinakannya sendiri.

“Lebih baik berpikir tentang kucing dengan cara Anda berpikir tentang anak tikus dan tikus dan burung-burung gereja dan merpati,” kata Carlos Driscoll, seorang ahli genetik di National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism di Rockville, Maryland, Amerika Serikat.

Image copyright
MsSaraKelly CC by 2.0

Image caption

Kucing ini tidak terlalu puas dengan keadaan.

Sebuah analisis genetik pada 2007 oleh Driscoll dan kolega-koleganya menemukan bahwa semua kucing yang telah dijinakkan merupakan keturunan dari kucing-kucing hutan yang hidup di dan di sekitar Fertile Crescent, tepatnya di titik tempat manusia-manusia mulai menetap lebih dari 10.000 tahun lalu.

“Pemukiman-pemukiman benar-benar merupakan lingkungan ekologis yang baru dan hewan-hewan yang cukup berani untuk memeriksa… melakukannya dengan sangat baik,” kata Driscoll. Kucing-kucing hutan seperti salah satu dari spesies ini, tertarik sudut-sudut perkotaan oleh kemudahan mendapatkan mangsa dan tidak adanya predator-predator besar.

“Semua yang harus dilakukan hewan-hewan ini adalah menjadi mahir bertingkah laku untuk hidup bersama manusia,” kata Driscoll. Tetapi yang lebih penting, “tidak ada pemilihan yang menghalangi mereka berburu, atau menghalangi mencari pasangan mereka sendiri, atau menghalangi menemukan tempat untuk membangun sarang mereka sendiri dari tumpukan sampah.

Hal ini dapat menjelaskan berbagai tingkat perilaku yang ditampilkan oleh kucing-kucing BBC Earth. “Beberapa akan lebih menyerupai kucing-kucing hutan pendahulunya dan memperlihatkan lebih banyak sikap yang soliter dan independen,” kata Driscoll. “Kucing-kucing lainnya, dari gambaran yang lain, bermanja-manja pada sahabat-sahabat manusianya.”

Dengan berbagai variasi ini, sungguh susah memberikan jawaban yang jelas pada pertanyaan apakah kucing itu egois. Sebaliknya, kita akan setuju dengan kata-kata bijak dari Gata Bela: “Kucing-kucing memang menggemaskan!”

Anda bisa menyimak artikel aslinya,

Cats are utterly, irredeemably selfish. True or false? dan artikel sejenis di

BBC Earth.

Source link

Related Posts

Leave a Reply